Kemarau, Perahu Wisata Rowo Jombor Beroperasi dengan Risiko Baling-baling Rusak

Kemarau, Perahu Wisata Rowo Jombor Beroperasi dengan Risiko Baling-baling Rusak
Sejumlah perahu wisata di Rowo Jombor Desa Krakitan Kecamatan Bayat masih beroperasi meski debit air waduk menurun drastis, Sabtu (17/10/2026). (Espos/Taufiq Sidik Prakoso)

Swaraaktual.com, KLATEN — Aktivitas perahu wisata di kawasan Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, ikut terpengaruh dengan menurunnya debit air waduk tersebut seiring kemarau panjang. Pengelola tetap mengoperasikan perahu meski berisiko merusak mesin.

Ada puluhan perahu wisata di kawasan waduk tersebut. Selain perahu wisata, ada wahana speedboat. Atraksi wisata itu dikelola pribadi oleh warga sekitar.

Salah satu pengelola perahu wisata, Sutomo, menjelaskan penurunan debit air waduk sangat terasa sekitar dua pekan terakhir. Tinggi muka air waduk menurun drastis. “Saat ini kedalaman air tinggal 40 sentimeter sampai 1 meter,” kata Sutomo saat berbincang dengan Espos, Minggu (18/10/2026).

Penurunan debit tersebut, jelas Sutomo, berpengaruh pada operasional perahu wisata. Meski mayoritas masih beroperasi, Sutomo menjelaskan ada risiko yang dihadapi pemilik perahu.

“Teman-teman sampai saat ini terpaksa beroperasi dengan mengambil risiko mesin rusak terutama bagian baling-baling karena tersangkut batu dan sampah,” jelas Sutomo.

Sementara itu, aktivitas wahana speed boat juga ikut terpengaruh dengan kondisi debit air menurun. Perahu-perahu cepat untuk sementara tidak dioperasikan dengan mempertimbangkan risiko ketika kondisi air waduk ketinggiannya menurun.

Salah satu nelayan Rowo Jombor, Nuwardi, mengatakan tinggi muka air waduk menurun sekitar 2,5 meter dari kondisi normal seiring kemarau panjang dengan selama berbulan-bulan tanpa hujan.

Disinggung tangkapan ikan saat kondisi debit waduk menurun, Nuwardi mengaku jauh lebih mudah. “Ya kalau kondisi air lebih dangkal seperti ini, lebih mudah dapat ikannya. Tetapi kalau nanti sudah ketemu musim hujan lagi, ya cari ikan lumayan sulit,” kata Nuwardi.

Jenis ikan yang banyak ditemukan di Rowo Jombor yakni nila hitam. Nuwardi mengatakan tangkapan saat kondisi seperti saat ini bisa sampai hampir 15 kg per hari.

Jumlahnya dua kali lipat dibandingkan ketika musim hujan tiba dengan hasil tangkapan oleh Nuwardi rata-rata 7 kg per hari. Namun, harga jual ikan dari nelayan saat ini lebih murah dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang kalau per kg itu Rp10.000. Ini turun dibandingkan sebelumnya bisa sampai Rp20.000 per kg,” ungkap dia.

Koordinator Operasional dan Pemeliharaan Bendungan Waduk Rowo Jombor, Nandung Setiawan, menjelaskan fungsi inti waduk untuk irigasi pertanian terutama pada MT 2 dan MT 3. Pada MT 3, air waduk dialirkan secara berkala ke saluran irigasi mulai Agustus.

Nandung menjelaskan luas waduk Rowo Jombor sekitar 178 hektare dengan daya tampung normal sekitar 3.200 meter kubik. Saat ini, kapasitas air yang masih tersedia sekitar 750 meter kubik.

Meski berkurang, Nandung menjelaskan ketersediaan air waduk masih mencukupi untuk irigasi pertanian di wilayah sekitar hingga masa panen MT 3.

Terkait aktivitas yang ada di waduk, Nandung menjelaskan untuk kegiatan budi daya ikan menggunakan karamba masih aman. Zona karamba itu berada di sisi tengah waduk dengan kondisi perairan masih cukup dalam. Sementara, aktivitas perahu wisata sebagian masih berjalan.

Leave a Reply