Swaraaktual.com, MAGETAN — Kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sedikitnya 27 sumber air yang terdiri atas telaga, bendungan, waduk, dan embung mengalami penyusutan dengan kondisi yang bervariasi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan, Yuli Karyawan Iswahyudi, mengatakan sebagian sumber air masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, sejumlah sumber air lainnya bahkan sudah mengering.
“Ada sekitar 27 sumber air yang terdiri dari telaga, bendungan, waduk, dan embung mengalami penyusutan. Kondisinya berbeda-beda, ada yang masih cukup, tetapi ada juga yang sudah kering,” ujarnya, Sabtu (29/8/2026).
Salah satu sumber air yang mengalami penyusutan adalah Telaga Pasir atau Telaga Sarangan. Tinggi muka air di telaga tersebut kini berada di kisaran 11,44 meter, turun sekitar 3 meter dibandingkan kondisi penuh yang mencapai 14,5 meter.
Kondisi serupa terjadi di Waduk Gonggang, Kecamatan Poncol. Tinggi muka air waduk kini tersisa sekitar 5,65 meter atau turun sekitar 7,5 meter dari kondisi penuh.
Meski mengalami penyusutan cukup signifikan, Yuli menyebut ketersediaan air di dua sumber tersebut masih relatif aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pertanian dalam beberapa waktu ke depan.
“Waduk Gonggang sekarang posisinya 5,65 meter, turun sekitar 7,5 meter dari posisi full [penuh]. Diperkirakan sampai September masih nutut untuk air bersih maupun petani,” jelasnya.
Air dari Telaga Pasir diperkirakan masih mencukupi kebutuhan pertanian serta operasional Pabrik Gula (PG) Rejosarie hingga masa giling berakhir pada awal Oktober. Sementara itu, Waduk Gonggang diproyeksikan masih mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dan irigasi hingga September.
Sejumlah Embung di Magetan Mulai Kering
Kondisi lebih parah terjadi pada sejumlah embung berukuran kecil. DPUPR Magetan mencatat beberapa embung di wilayah Sayutan, Trosono, dan Nglopang, Kecamatan Parang, bahkan telah mengering.
Menurut Yuli, embung yang masih menyisakan air saat ini sebagian besar tidak lagi digunakan untuk mengairi sawah. Air tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain, seperti pemancingan.
“Yang kering itu wilayah Sayutan, Trosono, Nglopang. Ada yang kering sama sekali, ada yang masih ada airnya, tetapi sudah tidak digunakan petani karena musim tanam padi berakhir,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, DPUPR Magetan terus melakukan sejumlah langkah mitigasi. Upaya itu antara lain pemeliharaan rutin infrastruktur sumber daya air, rehabilitasi ringan, hingga perbaikan sumur.
Di sisi lain, DPUPR juga berkoordinasi dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), kelompok tani, serta Dinas Pertanian Magetan untuk mengatur pola tanam pada Musim Tanam III.
“Ya sebisanya hanya pemeliharaan rutin, ada yang rehabilitasi kecil. Kita juga ada pembangunan embung masih melanjutkan. Jadi masing-masing memang kita semua alokasikan mengingat keterbatasan anggaran,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi kegagalan panen, petani diimbau tidak memaksakan menanam padi secara luas, terutama di wilayah yang tidak memiliki sumber air memadai. Yuli menyarankan penanaman padi hanya dilakukan pada lahan yang memiliki akses sumur air tanah dalam atau berada di dekat sumber air yang mencukupi.
Sementara itu, petani yang pasokan airnya diperkirakan tidak mencukupi hingga masa panen diarahkan beralih ke tanaman palawija yang membutuhkan lebih sedikit air.
“Menanam tanaman, entah itu padi maupun palawija, harus melihat ketersediaan air sampai umur panen. Kalau untuk padi dihitung atau berdasarkan pengalaman tidak cukup, ya beralih ke palawija yang sedikit memanfaatkan air,” tandasnya.

Leave a Reply