KIKT dan YWBPI Kirim 3 Pelajar Indonesia Kuliah ke Cina

KIKT dan YWBPI Kirim 3 Pelajar Indonesia Kuliah ke Cina
Penerima beasiswa bersama orang tua dan sejumlah pengusaha anggota KIKC yang mendukung program beasiswa Dharma Bumiputra. (Istimewa)

Swaraaktual.com, JAKARTA — Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) dan Yayasan Warga Bumiputra Indonesia (YWBPI) mengirim tiga pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Tianjin University, Cina, melalui program Beasiswa Dharma Bumiputra.

Ketua KIKT Garibaldi “Boy” Thohir mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya menjembatani hubungan dunia usaha Indonesia dan Cina, termasuk melalui kerja sama di bidang pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Boy saat ditemui dalam agenda pelepasan penerima Beasiswa Dharma Bumiputra di Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026).

Boy mengatakan ketertarikannya terhadap pendidikan di Cina muncul setelah melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara tersebut, khususnya dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

“Dalam perjalanannya saya melihat memang kemajuan ilmu pengetahuan di Cina itu luar biasa. Saya bertemu beberapa profesor dari beberapa universitas dan memang luar biasa,” kata Boy.

Menurut dia, perkembangan pendidikan di Cina tidak hanya menghasilkan peneliti, tetapi juga inventor yang mampu menciptakan teknologi dan membangun industri. “Profesor-profesor yang lulusan dari Cina itu mereka bukan saja menjadi peneliti, tetapi mereka juga menciptakan, inventor,” ujarnya.

Boy kemudian menceritakan awal mula kerja sama KIKT dengan Tianjin University. Saat rombongan dari Tianjin University berkunjung ke sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Boy menjadi tuan rumah rombongan tersebut dalam kapasitasnya sebagai Ketua KIKT.

Dari pertemuan tersebut, muncul pembicaraan mengenai peluang kerja sama pendidikan. “Dari situ ngomong-ngomong, akhirnya mereka menawarkan bagaimana kalau ada kerja sama. Saya bilang oke, bagus,” kata Boy.

Kerja sama tersebut kemudian berkembang setelah Boy bertemu dengan Ketua Umum YWBPI Hendropriyono yang memiliki visi serupa dalam bidang pendidikan. Karena KIKT tidak dapat secara langsung bergerak dalam pemberian beasiswa, program tersebut kemudian dijalankan bersama YWBPI.

“Makanya terus kita kerja sama. KIKT kan unfortunately tidak bisa bergerak di bidang pemberian beasiswa, jadi mesti ada yayasan. Nah, yayasan Pak Hendro ini yang menjadi kita kerja sama,” jelasnya.

Seleksi Ketat, Hanya Tiga yang Lolos

Boy mengatakan proses seleksi penerima beasiswa dilakukan cukup ketat. Dari sekitar 50 pendaftar, sebanyak 33 kandidat kemudian diajukan kepada pihak Tianjin University. Pada akhirnya, hanya tiga siswa yang dinyatakan lolos.

“Dari 50 kita saring-saring, ada 33 yang kita ajukan ke Tianjin, yang diterima cuma tiga,” ujarnya.

Ketiga penerima beasiswa tersebut berasal dari sekolah menengah unggulan, yakni dua siswa dari SMA Taruna Nusantara dan satu siswa dari SMA Sudirman, Cijantung. Mereka akan menempuh pendidikan di tiga bidang berbeda, yakni farmasi, teknik lingkungan, dan teknik kimia.

Boy mengakui proses seleksi tersebut tidak mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi calon penerima beasiswa adalah kemampuan bahasa.

Para penerima beasiswa nantinya akan mengikuti program pematangan bahasa Mandarin selama satu tahun. Selain Mandarin, proses pembelajaran juga akan menggunakan bahasa Inggris sehingga mahasiswa akan menghadapi sistem pembelajaran dengan dua bahasa.

Boy mengatakan program tersebut merupakan langkah awal untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Cina.

Dia menilai Cina layak menjadi salah satu tujuan pendidikan karena perkembangan teknologi dan pendidikan di negara tersebut dalam sekitar dua dekade terakhir berlangsung pesat, terutama pada bidang STEM.

“Saya melihat dengan kemajuan teknologi, dengan kemajuan pendidikan yang negara Cina alami, terutama dalam kurun waktu 20 tahun terakhir itu luar biasa, terutama dalam pendidikan STEM,” katanya.

Boy berharap program tersebut dapat menjadi salah satu kontribusi KIKT dan YWBPI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. “Kita cobalah berbuat sesuatu bagaimana kita bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia melalui pendidikan,” ujarnya.

Dia menegaskan program beasiswa tersebut bukan program sekali jalan. KIKT dan YWBPI berencana kembali membuka kesempatan serupa pada tahun depan dengan menjajaki kerja sama dengan lebih banyak universitas di Cina.

“Nanti kita akan tahun depan kita coba lagi. Mungkin kita akan mencari universitas-universitas lain di Tiongkok, bukan saja di Tianjin tapi mungkin nanti Tsinghua, terus CSU, dan lain-lain,” kata Boy.

Selain perguruan tinggi di Cina, YWBPI juga disebut akan menjajaki kerja sama pendidikan dengan institusi pendidikan di Indonesia.

“Kenapa Tiongkok karena tentunya peran dari KIKT. Tapi kita juga kalau dari Pak Hendro sendiri dari Yayasan Warga Bumiputra Indonesia nanti akan bekerja sama mungkin bukan saja di universitas di Tiongkok tapi mungkin di dalam negeri juga,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “KIKT dan YWBPI Kirim Pelajar Indonesia Kuliah ke Cina

Leave a Reply