Harga Ayam dan Telur Anjlok, Pemprov Jateng Upaya Cari Pasar Baru

Harga Ayam dan Telur Anjlok, Pemprov Jateng Upaya Cari Pasar Baru
Produksi telur ayam di Kendal, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). (Daerah/Adhik Kurniawan)

Swaraaktual.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menilai persoalan utama sektor peternakan saat ini bukan lagi pada produksi, melainkan pemasaran. Melimpahnya produksi ayam dan telur membuat pemerintah terus berupaya membuka pasar baru agar harga di tingkat peternak tetap stabil.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan salah satu langkah yang telah dilakukan adalah mengirim sekitar sembilan ton produk peternakan ke Kalimantan Tengah untuk meningkatkan serapan hasil produksi peternak.

“Kemarin saja kita kirim 9 ton ke Kalimantan Tengah untuk meningkatkan serapan. Makanya kadang masyarakat mengeluhkan harga karena produksi kita memang luar biasa,” ujar Frans, Rabu (15/7/2026).

Menurut dia, populasi ayam pedaging di Jawa Tengah saat ini mendekati 9 juta ekor, sedangkan populasi ayam petelur mencapai lebih dari 8 juta ekor. Besarnya produksi tersebut membuat tantangan terbesar berada pada penyerapan pasar.

“Produksinya besar sekali. Makanya yang sekarang kita atur adalah pemasarannya,” katanya.

MBG Kembali Berjalan

Frans optimistis harga ayam dan telur di tingkat peternak tidak akan kembali merosot tajam setelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan mulai Senin (13/7/2026) usai libur sekolah.

Ia menjelaskan program MBG memang bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga komoditas peternakan. Namun, program tersebut dinilai memberikan kontribusi cukup besar terhadap penyerapan produksi ayam dan telur yang saat ini mengalami surplus.

“MBG itu menyerap telur dan daging ayam. Jadi memang ada kontribusi yang lumayan menyerap telur sama daging ayam, tapi bukan satu-satunya,” jelasnya.

Untuk memperbesar serapan hasil peternak, Distanak Jawa Tengah telah mengusulkan komposisi menu MBG yang lebih banyak menggunakan produk peternakan. Dalam sepekan, menu dirancang menggunakan telur selama dua hari, daging ayam dua hari, dan ikan satu hari.

“Harapannya bisa menyerap lebih banyak dan harga tidak jatuh ke peternak. Minimal masuk sesuai harga produksinya,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah bersama pihak terkait juga telah menyepakati harga pembelian komoditas untuk kebutuhan MBG sekitar satu bulan lalu. Harga telur ditetapkan sekitar Rp28.000 per kilogram, sedangkan daging ayam sekitar Rp35.000 per kilogram.

“Kesepakatan itu sudah sekitar satu bulan yang lalu. Mestinya sekarang sudah mulai berjalan lagi seiring MBG aktif kembali,” kata Frans.

Leave a Reply