Swaraaktual.com, SANAA — Ketegangan antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi kembali meningkat. Houthi mengancam akan melakukan “pengepungan” terhadap Arab Saudi sebagai balasan atas serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa, sementara Lebanon mengecam serangan rudal yang menyasar Bandara Internasional Abha.
Pernyataan ancaman itu disampaikan anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, dalam wawancara dengan Al Jazeera, Selasa (14/7/2026). Menurutnya, serangan terhadap Bandara Sanaa memberi Houthi alasan untuk membalas dengan menyerang fasilitas serupa di Arab Saudi.
“Kesediaan mereka menyerang Bandara Sanaa untuk mencegah penerbangan tiba atau berangkat memberi Yaman hak untuk menyerang bandara mereka dan memberlakukan pengepungan seperti yang telah mereka lakukan kepada kami,” kata al-Bukhaiti.
Kelompok Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan terhadap Bandara Sanaa pada Senin (13/7/2026). Namun, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat di ibu kota yang dikuasai Houthi.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan terhadap Bandara Sanaa mengakhiri fase deeskalasi perang Yaman yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Houthi, serangan itu menyasar landasan pacu ketika pesawat Iran yang membawa delegasi mereka dari Teheran hendak mendarat. Pesawat tersebut kemudian dialihkan ke Hodeidah di pesisir Laut Merah.
Lebanon Dukung Arab Saudi
Sebagai respons awal, Houthi mengaku telah meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat.
Serangan itu mendapat kecaman dari Pemerintah Lebanon. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan negaranya mendukung penuh Arab Saudi dan mengecam serangan yang dinilai melanggar kedaulatan negara tersebut.
“Kami mengecam keras serangan terhadap Kerajaan Arab Saudi, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah mereka,” katanya dikutip Antara dari Sputnik/RIA Novosti.
Salam juga menegaskan dukungan Lebanon terhadap hak Arab Saudi untuk mengambil langkah yang diperlukan guna melindungi wilayah, warga negara, dan kepentingan nasionalnya sebagai bagian dari hak membela diri.
Menurutnya, berlanjutnya serangan tersebut berpotensi menggagalkan berbagai upaya menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan Teluk.
Sementara itu, al-Bukhaiti menegaskan Houthi akan tetap membuka jalur penerbangan antara Sanaa dan Teheran. Ia juga tidak menutup kemungkinan mengambil langkah lain apabila tekanan terhadap Bandara Sanaa terus berlanjut.
“Kartu Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang dapat dimanfaatkan Yaman. Kami akan menggunakannya terhadap negara-negara yang secara aktif melanggar hak-hak kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional. Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sebelumnya, Houthi beberapa kali menyerang kapal-kapal yang mereka klaim memiliki keterkaitan dengan Israel atau Amerika Serikat. Serangan-serangan tersebut sempat mengganggu pelayaran internasional di Laut Merah.
Di sisi lain, pemerintah Yaman menuduh Iran memanfaatkan penerbangan menuju Sanaa untuk mengirim personel, pengetahuan, dan peralatan militer kepada Houthi. Tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Houthi.

Leave a Reply