Sekali Saja, Bacalah Fiksi

Sekali Saja, Bacalah Fiksi
Ayu Prawitasari (Istimewa/Dokumen pribadi).

Salah satu paradoks dalam hidup yang membuat saya meringis adalah selalu ada instruksi penggunaan untuk segala benda yang saya beli: ponsel, pendingin ruangan, pemanggang roti, laptop, atau yang paling sederhana sekalipun—pembersih wajah. 

Sayangnya, sama sekali tidak ada buku instruksi yang bisa saya dapatkan tentang bagaimana menjadi manusia: bagaimana menjadi anak yang tidak begitu sering dimarahi orang tua; bagaimana menjadi remaja yang tidak kebingungan; atau bagaimana menjadi orang tua yang tidak terlalu cemas akan dirinya sendiri, anak-anaknya, pekerjaan, sampai masa depan mereka dalam satu waktu.

Dan saya tahu kita semua butuh instruksi. Itulah sebabnya beberapa orang mencari versi manualnya di agama, psikologi, guru, kajian, hingga buku motivasi. Khusus yang terakhir ini terus terang saya mungkin bukanlah pembaca yang ideal. Justru bisa dikatakan, saya adalah jenis pembaca yang sangat buruk untuk buku motivasi.

Dulu sekali, saya pernah mencoba mencicipi buku-buku jenis ini. Buku yang di dalamnya berisi ungkapan-ungkapan, seperti: dirimu lebih berharga daripada yang kamu sangka, sukses adalah kegagalan yang tertunda, hidupmu sebenarnya baik-baik saja, dan sejenisnya. Hasilnya? Sulit sebenarnya menggambarkan bagaimana rasanya, tapi mungkin analoginya seperti saat saya makan nasi goreng dengan dua garpu. Lapar saya tidak hilang dan saya justru terkena serangan mag.

Tentu saja ini adalah pengalaman yang sangat personal, saya tahu. Dan karena personal maka saya pun memilih alat yang berbeda, yang saya harap dapat membantu saya melihat kehidupan yang tajam ini dengan lebih riil dan logis: mengizinkan rasa sakitnya dalam kapasitas saya, menerima kegembiraannya dalam batas saya, dan kemudian berdamai dengan keduanya. 

Damai mungkin perlu saya lengkapi dengan garis tebal.

Saya akhirnya sadar—mungkin yang saya cari sebenarnya memang bukan jawaban, melainkan pertanyaan. Bukankah hidup ini memang rangkaian perjalanan pertanyaan? Bukan, sebaliknya, rangkaian perjalanan jawaban? Itulah sebabnya saya selalu bersungguh-sungguh menjalani hidup ini demi mengalami pertanyaan-pertanyaan yang bagus: pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang, pertanyaan-pertanyaan yang meremukkan, hingga pertanyaan-pertanyaan yang menenangkan.

Lalu, saya beruntung karena menemukan apa yang saya cari itu di dalam fiksi. Dalam cerita pendek. Dalam novel. 

Alih-alih memberikan jawaban, fiksi justru menghujani Anda dengan banyak sekali pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berputar-putar seperti menaiki bianglala, tetapi dengan satu keuntungan: kita tidak perlu sungguh-sungguh mengalaminya.

Dunia Baba Dunja, dalam novel terjemahan Alina Bronsky yang berjudul Cinta Terakhir Baba Dunja, serta dunia Frankie: Kucing Abu-abu Bertelinga Satu Setengah, karya Jochen Gutsch dan Maxim Leo, barangkali bisa menjadi contoh tepat untuk menjelaskan pengalaman bertanya yang tidak bisa saya lupakan.

Dalam buku Bronsky, misalnya, satu hal yang paling saya ingat bukanlah peristiwa pembunuhan yang melibatkan satu kampung atau momen ketika Baba Dunja dipenjara. Sebaliknya, yang menempel di memori saya justru cara Baba Dunja memandang rumahnya. Sebuah rumah yang berlokasi di daerah yang terkena radiasi dan ditinggalkan hampir seluruh penduduknya setelah bencana Chernobyl. 

Saat dunia menganggap daerah itu tak layak dihuni–Baba Dunja justru memandang sebaliknya. Rumahnya adalah tempat yang paling masuk akal untuk melanjutkan hidup. Di sana, kebun masih bisa ditanami, tetangga saling mengenal, surat kepada anak masih ditulis, dan hari-hari berjalan dengan ritme yang tenang. 

Jadi, apa itu rumah?

Lalu ada Frankie. Saya bahkan  tidak lagi mengingat semua petualangannya. Yang tertinggal justru rasa geli setiap kali kucing menyebalkan itu sedang asyik mengomentari tingkah laku manusia. Saat Frankie berpikir, misalnya, betapa anehnya manusia itu karena mereka punya empat kaki, namun yang dipakai hanya dua. Rupanya, dalam cara pandang Frankie, manusia sebenarnya “berkaki empat”—dua kaki dan dua tangan—tetapi anehnya mereka hanya memakai dua di antaranya untuk berpindah tempat.

Pikiran macam apa itu? 

Tapi, benar juga sih.

Satu hal lagi yang kerap membuat Frankie bingung melihat manusia adalah karena mereka memiliki kaki untuk berjalan ke mana pun, tetapi lebih sering diam sambil mencemaskan hari esok. Manusia, dalam mata Frankie, gemar sekali menyusun rencana seolah-olah hidup selalu bersedia mengikuti agenda yang mereka buat.

Jadi, apa itu hidup?

Tidak ada jawaban yang saya temukan tentu saja. Namun, saya tidak kecewa karena yang saya cari memang bukan sebuah definisi manusia, hidup bahagia, menangani kesedihan, atau hal-hal sejenis. Yang sejatinya saya cari adalah pengalaman hidup yang luas, atau bisa juga berlatih hidup sebagai manusia.

Menurut saya, membaca fiksi sama dengan menjalani sebuah simulasi. Seperti pilot yang berlatih menggunakan simulator sebelum benar-benar menerbangkan pesawat, pembaca pun melatih dirinya menjalani kehidupan yang belum tentu pernah dialaminya.

Dia belum kehilangan pasangan. Dia belum menjadi pengungsi. Dia belum menjadi lansia. Dia belum menjadi anak yatim. Tetapi sebaliknya, dia sudah mencoba menjadi mereka selama beberapa ratus halaman.

Contoh lain, tidak ada satu pun cerita pendek (cerpen) atau novel yang mengajari saya bagaimana menjadi ibu. Tetapi, cerpen dan novel memberi saya kesempatan hidup sebagai puluhan ibu yang berbeda. Pun, tidak ada novel yang mengajari saya menjadi anak, tetapi lewat fiksi saya pernah menjadi anak yang kehilangan ibu, anak yang dibenci ayah, anak yang ditinggalkan, atau menjadi anak yang dimanja.

Semuanya saya alami tanpa harus mengalaminya.

Mungkin memang tidak pernah ada buku petunjuk untuk menjadi manusia. Dan memang tidak seharusnya ada karena inti hidup bagi saya adalah sebuah ketidakpastian. 

Hidup terlalu rumit untuk diringkas menjadi sepuluh langkah, tujuh kebiasaan, atau tiga rahasia menuju kebahagiaan. Yang kita butuhkan sebenarnya bukan jawaban yang selesai, melainkan keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Di titik inilah fiksi bekerja. 

Fiksi tidak menawarkan instruksi atau janji hidup yang lebih mudah. Sebaliknya, fiksi hanya meminjamkan kehidupan orang lain untuk kita tinggali sebentar.  Ketika buku itu ditutup, kita memang kembali menjadi diri sendiri. Namun, jelas kita tidak menjadi kita yang sama lagi karena tokoh-tokohnya telah mengajak kita memandang dunia dengan cara berbeda.

Persis seperti setelah saya membaca Baba Dunja yang renta atau Frankie yang tingginya mungkin hanya 25 sentimeter. Saya tidak menjadi Baba Dunja. Saya juga jelas tidak berubah menjadi Frankie–syukurlah, tinggi badan saya jauh lebih baik daripada dia. Tetapi, sejak membaca mereka, saya mulai mengerti bahwa dunia memang bisa dilihat dengan cara yang sama sekali berbeda. 

Dan pengertian seperti itu, menurut saya, layak dipelihara.

(Esai ini terbit di Harian Daerah edisi 14 Juli 2026. Penulis adalah wartawan Daerah Media Group)

Leave a Reply