SBBI Awards 2026: Influence is The New Competitive Advantage

SBBI Awards 2026: Influence is The New Competitive Advantage
Ajang penghargaan merek bergengsi, Daerah Best Brand and Innovation (SBBI) Awards 2026 mengambil tema “Winning Value, Driving Impact”.

ESPOS, SOLO — Persaingan bisnis saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, layanan, atau harga. Perkembangan teknologi membuat berbagai keunggulan tersebut semakin mudah direplikasi. Di tengah kondisi itu, organisasi dituntut untuk membangun nilai yang tidak hanya relevan bagi pasar, tetapi juga mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Semangat inilah yang sejalan dengan tema SBBI Awards 2026, Winning Value, Driving Impact. Organisasi yang mampu menghadirkan nilai secara konsisten akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun kepercayaan, memperkuat posisinya di tengah persaingan, dan menciptakan pengaruh yang memberikan manfaat lebih luas.

CEO Daerah Media Group, Arif Budisusilo, menilai bahwa salah satu aset yang semakin menentukan daya saing organisasi saat ini adalah influence atau pengaruh. Namun, pengaruh tidak bisa disamakan dengan tingkat popularitas semata.

Menurutnya, banyak organisasi berhasil mendapatkan perhatian publik melalui berbagai aktivitas komunikasi dan pemasaran. Akan tetapi, perhatian tersebut belum tentu berkembang menjadi keyakinan yang mampu memperkuat hubungan dengan stakeholder.

“Kalau saya secara pribadi, populer itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Karena kehadiran kita melalui popularitas itu pada akhirnya harus menghasilkan pengaruh yang kuat bagi stakeholder maupun lingkungan kita,” ujar CEO Daerah Media Group, Arif Budisusilo, kepada Espos, Senin (22/6/2026).

Arif menjelaskan bahwa popularitas menunjukkan seberapa luas sebuah organisasi dikenal. Sementara influence menunjukkan kemampuan organisasi membangun kepercayaan yang membuat publik yakin terhadap nilai, komitmen, dan arah yang dijalankan.

“Popularitas belum tentu menghasilkan trust. Tetapi ketika sebuah brand memiliki influence yang kuat, berarti ada kepercayaan yang menjadi pegangan bagi stakeholder. Karena itu influence jauh lebih penting dibanding sekadar popularitas,” jelasnya.

Pengaruh Menjadi Pembeda

Perubahan perilaku konsumen membuat keputusan publik tidak lagi semata-mata dipengaruhi oleh produk atau layanan yang ditawarkan. Masyarakat kini juga mempertimbangkan kredibilitas organisasi, konsistensi tindakan, hingga kontribusinya terhadap lingkungan sekitar.

Dalam konteks tersebut, Arif melihat influence sebagai salah satu pembeda yang semakin penting bagi organisasi.

Menurutnya, pengaruh yang dibangun melalui kepercayaan memiliki nilai strategis karena tidak mudah ditiru oleh kompetitor. Ketika sebuah organisasi berhasil mendapatkan keyakinan dari para stakeholder, maka organisasi tersebut memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bertahan dalam berbagai perubahan.

Influence menjadi aset strategis karena influence bukan sekadar popularitas. Influence dibangun dari trust. Ketika kita memiliki influence yang kuat berbasis trust yang kuat, maka itu akan menjadi competitive edge bagi siapa pun dan bagi brand mana pun,” tegasnya.

Arif menambahkan, keunggulan berbasis kepercayaan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan keunggulan lainnya. Produk baru dapat diluncurkan oleh kompetitor. Layanan yang baik dapat dipelajari dan disamai. Namun hubungan yang terbangun melalui pengalaman dan kepercayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

“Kalau produk atau service mungkin banyak kompetitor yang bisa meniru. Tetapi ketika sebuah brand memiliki influence yang dibangun dari trust yang tinggi, itu sangat sulit ditiru,” katanya.

Karena itu, organisasi perlu memandang pengaruh sebagai hasil dari proses jangka panjang, bukan sekadar hasil dari kampanye komunikasi yang bersifat sesaat.

Dibangun Melalui Konsistensi

Meski memiliki peran yang semakin penting, pengaruh tidak lahir dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi untuk memastikan apa yang disampaikan organisasi benar-benar tercermin dalam tindakan dan layanan yang diberikan.

Arif menyebut konsistensi sebagai tantangan terbesar dalam membangun influence. Sebab, publik saat ini semakin mudah mengakses informasi dan menilai apakah sebuah organisasi benar-benar menjalankan apa yang dikomunikasikannya.

Influence hadir dari konsistensi tindakan kita. Walk the talk. Menjalankan apa yang disampaikan oleh brand dan memastikan layanan yang diberikan benar-benar membawa manfaat bagi stakeholder maupun konsumen,” paparnya.

Menurutnya, organisasi yang mampu menjaga keselarasan antara pesan dan tindakan akan lebih mudah mempertahankan kepercayaan publik. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara keduanya dapat memengaruhi persepsi yang selama ini telah dibangun.

“Begitu kepercayaan dicederai, bahkan oleh hal yang kecil, biasanya itu akan memengaruhi influence dan trust yang telah dibangun. Karena itu konsistensi tindakan menjadi sangat penting dan strategis,” tuturnya.

Peran Media dan Platform Digital

Di era digital, organisasi memiliki lebih banyak kesempatan untuk membangun hubungan dengan publik. Berbagai platform komunikasi memungkinkan pesan disampaikan secara lebih cepat dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Meski demikian, Arif mengingatkan bahwa membangun pengaruh tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar jangkauan yang diperoleh. Kredibilitas saluran komunikasi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

“Saya percaya media dan digital membentuk influence bagi brand. Tetapi pilihan media menjadi sangat strategis. Kalau kita memilih media yang tidak dipercaya publik, maka trust terhadap brand juga bisa terpengaruh,” ungkapnya.

Menurut dia, banyak organisasi terlalu fokus mengejar angka jangkauan dan viralitas. Padahal, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang melihat sebuah pesan, melainkan juga oleh kualitas kepercayaan yang terbentuk setelah pesan tersebut diterima.

“Bukan sekadar outreach. Virality penting, tetapi virality harus berbasis fundamental yang kuat,” tegas Arif.

Dari Nilai Menuju Dampak

Bagi Arif, masa depan influence tidak akan ditentukan oleh seberapa sering sebuah organisasi muncul di ruang publik. Pengaruh yang relevan justru akan lahir dari kemampuan menghadirkan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Organisasi yang mampu menjaga kualitas, menjalankan komitmen, dan memberikan kontribusi yang nyata akan memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan organisasi yang hanya berfokus pada eksposur.

Influence akan semakin berperan apabila organisasi tidak hanya dikenal, tetapi mampu menghadirkan dampak yang positif dan bermanfaat secara luas,” ujarnya.

Pandangan tersebut selaras dengan semangat Winning Value, Driving Impact yang diusung SBBI Awards 2026. Bahwa nilai yang dibangun secara konsisten akan melahirkan kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh pengaruh. Dan dari pengaruh yang kuat, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, pengaruh bukanlah sesuatu yang dapat dibentuk secara instan. Pengaruh merupakan hasil dari komitmen jangka panjang dalam menghadirkan manfaat, menjaga integritas, dan memenuhi harapan para stakeholder. Ketika hal tersebut dilakukan secara konsisten, maka pengaruh akan tumbuh secara alami dan menjadi salah satu aset paling berharga bagi organisasi di masa depan.

Leave a Reply