Tak Ada yang Setabah WNI pada Bulan Juni

Tak Ada yang Setabah WNI pada Bulan Juni
Google Doodle Sapardi Djoko Damono, Senin (20/3/2023).

Swaraaktual.com, SOLO — Pujangga Tanah Air, Sapardi Djoko Damono pernah menjelaskan mengapa ia menulis Hujan Bulan Juni. Menurutnya, lantaran Juni bukan bulan yang identik dengan hujan. Jika hujan turun pada Desember, tidak ada yang akan bertanya sebab hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Namun, hujan yang datang pada Juni membuat orang berhenti sejenak dan berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi.

Puisi itu ditulis pada 1989, lebih dari tiga dekade silam, ketika hujan nyaris tidak pernah turun pada Juni. Namun, seperti kebanyakan karya sastra yang baik, hujan dalam puisi Sapardi tidak pernah benar-benar tentang hujan. Ia menjadi simbol perasaan yang dipendam, kerinduan yang tidak mencari panggung, serta cinta yang memilih bertahan meski tidak selalu memperoleh balasan yang layak.

Hal yang paling menarik dari puisi itu adalah cara hujan hadir. Ia tidak turun dengan gegap gempita, tidak memaksa musim berubah. Hujan datang diam-diam, menyimpan yang tidak sempat diucapkan, lalu meresap perlahan ke akar kehidupan. Ada kesabaran, ketabahan, hingga kesetiaan terhadap sesuatu yang bahkan tidak selalu memberikan alasan untuk tetap dicintai.

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Setiap kali membaca Hujan Bulan Juni, saya justru teringat pada kita sebagai warga negara Indonesia (WNI). Mungkin terdengar berlebihan, tetapi cobalah melihat keadaan hari ini.

Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2025 berada di angka 34 dari 100 dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-109 dari 180 negara. Artinya, persepsi terhadap korupsi di negeri ini masih sangat buruk. Indonesia bahkan kembali keluar dari 100 besar negara dengan persepsi korupsi terbaik.

Korupsi di Indonesia sudah sedemikian rutin sehingga kadang terasa seperti kalender, selalu ada edisi berikutnya. Kita hidup dalam siklus yang aneh, terkejut oleh sesuatu yang sebenarnya sudah tidak mengejutkan lagi.

Namun, yang lebih aneh bukan korupsinya, melainkan rakyatnya yang masih bertahan. Mereka tetap bangun pagi, minum kopi, berwirausaha, berangkat ke sawah, berdesakan naik KRL menjadi pekerja kantoran, dan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membayar pajak.

Listrik Padam

Pada Juni ini, sebagian warga Jawa kembali belajar tentang kesabaran ketika listrik padam di berbagai wilayah. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya beberapa jam tanpa lampu. Namun, bagi banyak warga, dampaknya jauh lebih konkret.

Ada roti yang gagal mengembang lantaran proses produksi terhenti di tengah jalan, atau biji kopi yang sedang roasting lalu rusak akibat mesin mendadak mati sebelum siklus selesai. Ada pelaku UMKM yang kehilangan satu hari penjualan. Bahkan ada ibu bekerja yang terpaksa membuang air susu ibu perah (ASIP) yang telah disimpan berhari-hari di kulkas.

Namun, tidak satu pun kerugian itu menjadi headline berita nasional. Kerugian tersebut juga tidak tercatat dalam istilah teknis seperti “gangguan pembangkit” atau “manajemen beban”. Padahal kerugian-kerugian kecil itulah yang paling nyata dirasakan masyarakat.

Bagi warga biasa, penyebabnya bisa pembangkit, transmisi, cadangan daya, atau apa pun istilah yang sedang diperdebatkan para ahli. Namun yang mereka pahami yakni, pekerjaan terhenti, bahan baku rusak, pendapatan berkurang, dan hari yang seharusnya biasa berubah menjadi lebih sulit.

PLN menjelaskan bahwa pemadaman terjadi akibat gangguan teknis pada sejumlah pembangkit besar yang menyebabkan pasokan daya ke sistem menurun. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyatakan bahwa masalah tersebut bukan dipicu kekurangan batu bara, melainkan persoalan teknis yang sedang diperbaiki.

Penjelasan itu mungkin benar. Namun, bagi masyarakat, persoalannya sering kali bukan terletak pada istilah teknis yang digunakan. Apa pun penyebabnya, pengalaman yang dirasakan tetap sama; lampu padam, pekerjaan berhenti, aktivitas terganggu, pendapatan berkurang, dan waktu terbuang. Mereka tidak hidup di dalam laporan teknis, melainkan di dalam konsekuensi.

Di sisi lain, sejumlah pengamat energi mempertanyakan mengapa gangguan pada beberapa pembangkit dapat berdampak begitu luas terhadap sistem kelistrikan Jawa. Bukankah sistem sebesar Jawa-Madura-Bali seharusnya memiliki cadangan dan mekanisme perlindungan yang memadai? Pertanyaan itu penting. Transparansi memang diperlukan. Evaluasi harus dilakukan.

Namun, ada sesuatu yang lebih menarik daripada perdebatan teknis tersebut, yakni betapa cepatnya kita kembali melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Listrik padam, mengeluh sebentar, mencari solusi, lalu kembali bekerja.

Kita melakukan itu bukan lantaran semuanya baik-baik saja. Bukan pula sebab kita tidak marah. Justru kita terlalu sering dipaksa berhadapan dengan keadaan yang tidak ideal, padahal seharusnya menjadi hal yang normal atau setidaknya standar minimum pelayanan.

Mungkin inilah bentuk ketabahan yang paling khas dari warga negara Indonesia. Negara ini berkali-kali diuji oleh korupsi, buruknya layanan publik, dan kebijakan yang membingungkan. Yang mengejutkan bukan masalahnya, melainkan rakyatnya yang belum menyerah.

Kita tidak hidup di negara yang gagal. Namun, kita juga terlalu sering hidup di negara yang membuat warganya harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan hal-hal yang seharusnya berjalan normal. Dan entah bagaimana, sebagian besar orang tetap bertahan, peduli, dan berharap. Mereka juga masih mencintai negeri ini.

Padahal, jika dipikir-pikir, alasan untuk kecewa sering kali datang lebih banyak daripada alasan untuk optimistis. Pada situasi itulah saya merasa Sapardi sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada kisah cinta.

Sebab terkadang mencintai Indonesia terasa seperti menjadi hujan pada bulan Juni: datang pada musim yang tidak ramah dan menjaga harapan agar tidak mati.

Menyimpan banyak hal yang tidak sempat diucapkan, lalu tetap memilih hadir meski berkali-kali dikecewakan. Mungkin di negeri ini, berharap sering kali bukan soal optimisme, melainkan tentang bertahan hidup.

Maka, jika ada kalimat yang pantas ditulis pada Juni tahun ini, bukan lagi tentang hujan, melainkan tentang rakyat Indonesia. Tak ada yang lebih tabah dari WNI pada bulan Juni.

Leave a Reply