Swaraaktual.com, KARANGANYAR — Sektor pariwisata di Kabupaten Karanganyar dinilai butuh penguatan ekosistem, inovasi, hingga strategi promosi yang tepat agar pamornya bisa kembali bangkit.
Sebagai informasi, pamor wisata Kabupaten Karanganyar yang sempat berada di puncak pada 2024 terjun bebas ke peringkat ke-25 di Jateng pada 2026. Butuh penguatan inovasi, serta strategi promosi yang lebih modern, selain kolaborasi antarpelaku usaha untuk menjaga daya saing destinasi wisata daerah.
Salah satu destinasi wisata yang terdampak dari redupnya pamor wisata Karanganya adalah Telaga Kusuma di Desa Tunggulrejo, Kecamatan Jumantono. Objek wisata ini mencatat penurunan kunjungan wisatawan hingga sekitar 40 persen pada periode Lebaran 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dirasakan langsung oleh pengelola dan masyarakat sekitar yang menggantungkan aktivitas ekonomi dari sektor wisata. Kepala Desa Tunggulrejo, Parno Karyo Sumarto, mengatakan penurunan kunjungan wisata sudah mulai terlihat sejak momentum Lebaran tahun ini.
Kondisi tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisata. “Lebaran kemarin langsung terasa. Penurunan kunjungan di Telaga Kusuma sekitar 40 persen. Padahal tahun sebelumnya [Lebaran 2025] masih ada kenaikan sekitar 3-4 persen dibanding 2024,” ujarnya ketika berbincang dengan Espos, Jumat (10/4/2026).
Ia menyebut berdasarkan informasi yang dia terima dari Dinas Pariwisata, penurunan kunjungan wisata juga terjadi secara umum di objek wisata lain di wilayah Karanganyar. Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius semua pihak, terutama dalam memperkuat strategi pengembangan sektor pariwisata daerah.
Parno menilai salah satu faktor yang cukup berpengaruh adalah lemahnya strategi pemasaran wisata. Ia menyebut selama ini promosi masih belum sepenuhnya menyasar wisatawan potensial secara langsung, termasuk pemanfaatan media sosial dan kolaborasi dengan influencer yang dinilai masih minim.
“Menurut saya marketing kita belum maksimal. Event sudah ada, expo juga jalan, tapi lebih banyak melibatkan pelaku wisata, bukan target wisatawan,” jelasnya.
Pengenalan Potensi
Ia juga menilai kegiatan promosi melalui expo memang penting sebagai ajang pengenalan potensi wisata, namun belum cukup kuat untuk meningkatkan jumlah kunjungan secara signifikan. Karena itu, ia mendorong adanya terobosan promosi yang lebih kreatif, adaptif terhadap perkembangan digital, dan lebih tepat sasaran.
“Expo itu bagus, tapi harus ditambah strategi lain seperti promosi digital dan influencer supaya langsung menyentuh wisatawan,” tambahnya.
Selain faktor pemasaran, Parno juga menyoroti semakin ketatnya persaingan antardaerah wisata di wilayah sekitar. Ia menyebut daerah seperti Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta semakin agresif dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis alam, air, dan umbul yang menarik minat wisatawan.
“Kita kalah bersaing dengan daerah lain yang ekosistem wisatanya lebih kuat. Klaten dan Jogja itu berkembang sangat cepat,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan potensi wisata di Karanganyar tetap besar dan tidak kalah dibanding daerah lain. Menurutnya, Karanganyar memiliki kekuatan utama berupa alam yang masih asri, udara yang sejuk, serta keramahan masyarakat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Ia menambahkan produk wisata Karanganyar tidak kalah. “Alam kita bagus, masyarakat juga ramah. Tinggal bagaimana pemasarannya diperkuat dan ekosistemnya dibangun lebih terintegrasi,” ujarnya.
Sebagai pelaku wisata di tingkat desa, ia tetap berupaya bertahan di tengah kondisi fluktuasi kunjungan dengan mengoptimalkan promosi secara mandiri. Namun ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, terutama dalam membangun ekosistem wisata yang saling terhubung antar destinasi sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung ke satu titik saja.
“Kami di desa tetap berusaha survive, tapi kami juga butuh dukungan pemerintah untuk membangun ekosistem wisata yang saling terhubung,” katanya.
Sementara itu, sektor pendukung pariwisata seperti pusat oleh-oleh masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pejabat Humas Banana Krezz, Aji Sudarsono, mengatakan dampak penurunan kunjungan wisata tidak terlalu signifikan dirasakan pada usaha oleh-oleh tersebut selama libur Lebaran.
“Kalau untuk oleh-oleh di Banana Krezz stabil sih. Yang penurunan itu lebih ke rombongan wisatawan, tapi kalau keluarga masih cukup stabil,” ujarnya.
Stagnasi Inovasi
Ia mengakui adanya tren penurunan kunjungan wisata di Karanganyar secara umum, namun hal tersebut tidak terlalu berdampak besar pada aktivitas di pusat oleh-oleh yang dikelolanya.
Menurutnya, pola kunjungan wisatawan kini juga mulai berubah, dengan lebih banyak wisatawan keluarga dibanding rombongan besar. “Kalau turun ya ada, tapi nggak cukup signifikan. Harapannya memang ada perbaikan ke depan,” tambahnya.
Aji juga menilai sektor pariwisata Karanganyar saat ini menghadapi tantangan berupa stagnasi inovasi. Ia menyebut diperlukan pembaruan konsep wisata agar tidak tertinggal dari daerah lain yang lebih agresif dalam mengembangkan destinasi baru. “Harus upgrade, harus ada yang baru, supaya tidak kalah bersaing,” jelasnya.
Ia menambahkan saat ini wisatawan cenderung lebih memilih destinasi di Klaten dan Yogyakarta karena dianggap lebih variatif dan terus berkembang. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi pelaku wisata di Karanganyar untuk melakukan inovasi yang lebih serius.
Dengan kondisi tersebut, para pelaku wisata berharap adanya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat promosi, memperluas jaringan destinasi, serta menghadirkan inovasi baru agar sektor pariwisata Karanganyar kembali kompetitif dan menarik minat wisatawan.
Diberitakan sebelumnya, pamor pariwisata Kabupaten Karanganyar mulai meredup. Berdasarkan data terbaru, kunjungan wisatawan Karanganyar kini berada di peringkat ke-25 se-Jawa Tengah, setelah 2024 silam pernah menempati peringkat pertama.
Posisi Karanganyar tersebut kalah jauh dari Klaten yang berada di posisi kedua kunjungan wisatawan se-Jawa Tengah. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Yoppi Eko Jati Wibowo, mengakui kondisi ini sangat mengkhawatirkan.
Pembenahan Internal
Ia menyebut faktor penyebabnya kompleks, mulai dari budaya birokrasi internal hingga masalah infrastruktur dan perilaku pelaku usaha wisata. “Dulu kita peringkat satu, sekarang kalah dari Klaten. Ini harus jadi alarm keras bagi kita semua,” tegas Yoppi saat diwawancarai Espos, Selasa (7/4/2026).
Yoppi menyoroti budaya birokrasi di Disparbud Karanganyar yang selama ini masih kaku. Menurutnya, birokrat di dinas pariwisata seharusnya berperan sebagai entertainer, bukan sekadar pegawai administratif. Karena itu, baru sebulan memimpin Disparbud Karanganyar, Yopi langsung merombak internal di sana.
Sebagai langkah awal, Yopi membagi internal Disparbud ke dalam empat kelompok kerja (pokja), yakni Spot Tourism, Eco Culture Tourism, Wellness Tourism, dan Enthusiast. Skema ini bertujuan memacu kreativitas dan inovasi dalam mengelola destinasi wisata.
Selain masalah internal, Yoppi juga menyoroti pelaku usaha wisata yang belum bersinergi. Banyak pedagang, penyedia parkir, hingga pengelola restoran yang masih mementingkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan kenyamanan wisatawan.
“Parkir semrawut, pedagang di trotoar, tidak ada gotong royong. Yang penting dapat uang sendiri. Tidak ada sinergi, tidak ada kebersamaan. Wisata itu soal pengalaman. Kalau pengunjung kapok, ya selesai,” ujarnya.
Yoppi sangat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam karena daya tarik utama Karanganyar adalah wisata alam, seperti kawasan Tawangmangu dan Ngargoyoso. Namun, menurut Yoppi, keindahan alam tersebut mulai memudar akibat kurangnya perawatan dan pengelolaan terpadu.
“Dulu orang datang ke Tawangmangu ingin suasana sejuk, berkabut tipis, pohon pinus, pohon cemara. Sekarang itu mulai hilang. Ini tidak disadari oleh mereka,” ungkapnya.

Leave a Reply