Menabung 13 Tahun, 3 Pedagang Pasar Sukowati Sragen Berangkat Haji

Menabung 13 Tahun, 3 Pedagang Pasar Sukowati Sragen Berangkat Haji
Bakul kelontong di Pasar Sukowati Sragen, Maryuti, saat melayani pembeli, Selasa (28/4/2026). (Daerah/Tri Rahayu)

Swaraaktual.com, SRAGEN — Kabar menggembirakan datang dari Pasar Sukowati Sragen. Tiga pedagang kelontong di pasar tradisional tersebut berhasil mewujudkan impian berangkat haji pada 2026 setelah menabung selama belasan tahun.

Mereka adalah Sri Lestari (45), Sriyani, dan Maryuti (50). Ketiganya merupakan pedagang kelontong yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas berdagang di pasar.

Sri Lestari, warga Kampung Pecing, Kelurahan Sragen Tengah, mengaku mulai mendaftar haji pada 2013 bersama suami dan ibunya, Suti (74). Namun, tahun ini ia berangkat lebih dulu bersama sang ibu, sementara suaminya dijadwalkan berangkat pada 2027.

“Tahun ini saya berangkat bersama ibu. Saya mendampingi ibu. Kalau suami berangkat tahun depan,” ujar Sri, Selasa (28/4/2026).

Ia mengaku terharu saat mengetahui dirinya mendapat giliran berangkat haji. Air matanya tak terbendung karena penantian panjang akhirnya terwujud.

Selama bertahun-tahun, Sri menyisihkan penghasilan dari berdagang, bahkan hingga Rp100.000 per hari saat kondisi pasar ramai. Namun saat sepi, ia mengaku tidak selalu bisa menabung.

Sri Lestari, 45, bakul kelontong di Pasar Sukowati Sragen sedang memeriksa dagangannya, Selasa (28/4/2026)
Sri Lestari, 45, bakul kelontong di Pasar Sukowati Sragen sedang memeriksa dagangannya, Selasa (28/4/2026). (Daerah/Tri Rahayu)

Sementara itu, Maryuti, warga Desa Tanggan, Kecamatan Gesi, juga merasakan hal serupa. Ia mendaftar haji sejak 2013 bersama suaminya, Mulyono (55), dan baru mendapat kesempatan berangkat pada 2026.

“Sebagai pedagang, untuk bisa berhaji ya harus menabung. Kalau ramai bisa Rp50.000 per hari, kalau sepi paling Rp30.000,” ungkapnya.

Maryuti sempat dijadwalkan berangkat pada 2023, namun saat itu belum siap sehingga keberangkatan ditunda. Kini, ia dan suami akan berangkat bersama pada Mei 2026.

Ia menegaskan kunci utama bisa berangkat haji adalah niat dan konsistensi dalam menabung, meskipun di tengah keterbatasan ekonomi dan kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak.

Pedagang lainnya, Sriyani, juga berhasil berangkat haji tahun ini dan tergabung dalam kelompok terbang (kloter) berbeda.

Kisah ketiganya menjadi inspirasi bahwa dengan tekad kuat dan disiplin menabung, impian untuk menunaikan ibadah haji tetap bisa diraih, meski berangkat dari usaha kecil di pasar tradisional.

Leave a Reply